BANDA ACEH (Inforakyataceh) Pemerintah Aceh bergerak cepat merespons potensi kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Biosolar yang mulai dirasakan di sejumlah daerah.
Atas instruksi Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Taufik, telah mengajukan usulan penambahan kuota Biosolar sebanyak 25.711 kiloliter (KL) kepada Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) di Jakarta.
Langkah cepat ini diambil menyusul laporan meningkatnya konsumsi BBM di beberapa wilayah Aceh, seiring tingginya aktivitas ekonomi dan mobilitas transportasi masyarakat.
Dalam surat Gubernur Aceh bernomor 500.10.8/15576 tertanggal 21 Oktober 2025, disebutkan bahwa realisasi penggunaan Biosolar hingga Oktober telah mencapai 455.755 KL, atau 106 persen dari kuota tahunan sebesar 430.044 KL. Data tersebut terungkap dalam rapat koordinasi Dinas ESDM Aceh bersama PT Pertamina Patra Niaga, yang menunjukkan lonjakan kebutuhan energi di sektor transportasi dan logistik.
Kepala Dinas ESDM Aceh, Taufik, didampingi Kabid Migas Dian Budi Darma, menyampaikan bahwa usulan penambahan kuota sudah diserahkan langsung ke BPH Migas.
“Surat usulan tambahan Biosolar sudah diteken Pak Gubernur dan telah kami serahkan. Ini langkah cepat agar Aceh tidak mengalami kekurangan pasokan BBM subsidi hingga akhir tahun,” ujar Taufik di Banda Aceh, Rabu (4/11/2025).
Menurutnya, peningkatan konsumsi paling signifikan terjadi di wilayah pesisir Barat–Selatan dan Timur–Utara Aceh. Di kawasan Barat–Selatan, aktivitas pengiriman Crude Palm Oil (CPO) meningkat pesat, ditandai dengan pergerakan puluhan mobil tangki setiap malam menuju Sumatera Utara. Sementara di kawasan Timur–Utara, lonjakan kebutuhan BBM dipicu meningkatnya arus distribusi bahan pokok, pupuk, dan material bangunan yang masuk dan keluar Aceh.
“Setiap malam truk-truk besar bergerak melintasi rute antarprovinsi. Sejak Juni hingga Oktober 2025, kebutuhan Biosolar melonjak drastis,” jelasnya.
Taufik menegaskan, jika tambahan kuota tidak segera diberikan, pasokan BBM subsidi di sejumlah SPBU wilayah pesisir berpotensi menipis bahkan terhenti, yang dapat mengganggu distribusi barang dan kebutuhan pokok masyarakat.
“Kalau tidak ada tambahan, distribusi akan terganggu, dan itu bisa memukul rantai pasok,” tegasnya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas ESDM Aceh bersama Hiswanamigas dan instansi terkait telah menggelar rapat koordinasi khusus untuk menghitung kembali kebutuhan Biosolar hingga akhir tahun. Dari hasil evaluasi bersama Pertamina, disimpulkan bahwa Aceh membutuhkan tambahan 25.711 KL agar pasokan tetap stabil sampai Desember 2025.
“Perhitungan teknis ini juga telah kami lampirkan dalam surat pengajuan ke BPH Migas,” tambah Dian Budi Darma.
Taufik mengingatkan bahwa sebelumnya, Pemerintah Aceh juga telah mengajukan permintaan tambahan 10.000 KL Biosolar dan 10.000 KL minyak tanah pada 4 September 2025. Namun, peningkatan konsumsi yang terus terjadi membuat kebutuhan tambahan kembali mendesak.
“Kita berharap BPH Migas dapat segera mengabulkan usulan ini, demi kelancaran transportasi dan aktivitas ekonomi masyarakat Aceh hingga akhir tahun,” pungkasnya.






